Mengulik Kemiskinan Kabupaten Bangka Barat Tahun 2021

Oleh : Nimrot Sitorus, S.E., M.S.E. (Koordinator Fungsi Statistik Sosial Kabupaten Bangka Barat) 

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bangka Barat mencatat bahwa Kabupaten Bangka Barat tahun 2021 merupakan kabupaten dengan persentasi dan jumlah kemiskinan terendah se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yaitu 2,75 persen atau sebanyak 5.850 jiwa. Angka ini jauh lebih kecil apabila dibandingkan dengan angka kemiskinan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung maupun secara nasional yaitu 4,90 persen dan 10,14 persen.

BPS mendefinisikan bahwa kemiskinan menggambarkan ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Seseorang dikatakan sebagai penduduk miskin apabila memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan. Garis kemiskinan menggambarkan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan setara 2100 kkal perkapita perhari dan kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. 

Kemiskinan menjadi indikator keberhasilan suatu daerah dalam menyejahterakan masyarakatnya. Kemiskinan berkaitan dengan pendapatan yang diperoleh setiap hari atau setiap bulannya dalam memenuhi tingkat konsumsi atau yang menjadi pengeluaran pada setiap masyarakat. Guna mendapatkan indikator kesejahteraan tersebut, informasi tentang pengeluaran untuk konsumsi penduduk lebih sering digunakan dibandingkan informasi tentang pendapatan, konsumsi penduduk terdiri dari konsumsi makanan dan bukan makanan.

Garis kemiskinan Kabupaten Bangka Barat Tahun 2021 sebesar 599.887 rupiah dan rata-rata pengeluaran sebulan setiap penduduk Kabupaten Bangka Barat sebesar 1.388.584 rupiah, hasil survei sosial ekonomi nasional (Susenas) Maret 2021. Pengeluaran tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan baik makanan maupun bukan makanan, pengeluaran makanan lebih dari 50 persen yaitu sebesar 52,81 persen.

Dengan kata lain, alokasi pengeluaran lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan dari pada non makanan. Persentase pengeluaran makanan adalah perbandingan antara total pengeluaran makanan terhadap total pengeluran keseluruhan. Rata-rata pengeluaran komoditas makanan sebesar 733.257 rupiah perkapita sebulan, sedangkan pengeluaran bukan makanan sebanyak 655.327 rupiah perkapita sebulan. 

Besarnya pengeluaran makanan menjadi salah satu indikator ketahanan pangan rumah tangga yang dapat dipengaruhi beberapa faktor seperti pendapatan, jumlah tanggungan keluarga, pendidikan orang tua. Oleh karena itu, semakin kecil persentasi pengeluaran bahan makanan rumah tangga dari pada bahan bukan makanan akan menjadi indikasi bahwa semakin kuat ketahan pangan keluaraga tersebut.

Menurut besar pengeluarannya, penduduk dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu kelompok 40 persen bawah (40 persen penduduk dengan pengeluaran terendah), 40 persen menengah (40 persen penduduk dengan pengeluaran menengah) dan 20 persen atas (20 persen penduduk dengan pengeluaran tertinggi).

Kabupaten Bangka Barat memiliki rata-rata pengeluaran kelompok 40 persen bawah sebesar 884.073 rupiah perkapita perbulan dan kelompok 20 persen atas hampir lebih besar tiga kali dari pada kelompok 40 persen bawah. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa gap kesejahteraan masih cukup besar, sehingga kesejahteraan tersebut masih belum dapat dinikmati secara merata oleh setiap penduduk di Kabupaten Bangka Barat. 

Bagaimana Karakteristik Penduduk Miskin di Kabupaten Bangka Barat ? 

Mengetahui karakteristik rumah tangga miskin dinilai penting dan strategis dalam konteks pendalaman permasalahan teknis, ekonomi, dan sosial penduduk miskin, sebagai cara untuk merumuskan ataupun intervensi kebijakan pemerintah daerah untuk mengentaskan kemiskinan kedepannya. 

Karakteristik demografi penduduk dan tingkat pendidikan kepala rumah tangga (KRT) merupakan salah satu indikator sosial. Rata-rata jumlah anggota rumah tangga miskin di Kabupaten Bangka Barat adalah 4,60 artinya bahwa rumah tangga miskin cenderung mempunyai anggota rumah tangga 4-5 orang. 

Tingkat pendidikan kepala rumah tangga miskin pada umumnya rendah dan sebagian besar adalah tidak punya ijazah, tidak pernah sekolah dan tidak tamat SD yakni 53,73 persen dan rata-rata lama sekolah kepala rumah tangga miskin hanya 3,9 tahun.  KRT miskin memiliki pendidikan rendah dari pada KRT tidak miskin, hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan KRT cenderung bisa keluar dari garis kemiskinan. 

Apabila dilihat dari sumber penghasilan, penduduk miskin di Kabupaten Bangka Barat didominasi oleh masyarakat yang sumber penghasilan utama kepala rumah tangga adalah yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian sebesar 45,50 persen dari total penduduk miskin di Kabupaten Bangka Barat. Melihat rumah tangga miskin sebagian besar mengandalkan sektor pertanian, maka seyogianya pembangunan sektor pertanian lebih diperhatikan untuk  meningkatkan kesejahteraan petani. 

Untuk mewujudkan visi Pemerintah Kabupaten Bangka Barat yaitu masyarakat bangka barat yang maju, sejahtera, dan bermartabat harus berkomitmen dengan program-program yang meningkatkan perekonomian masyarakat. Perekonomian yang tumbuh diharapkan mampu menekan angka kemiskinan dan mampu menciptakan pemerataan distribusi pendapatan yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Dengan demikian, Pemerintah Kabupaten Bangka  Barat  dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia yaitu yang berdaya saing dalam bidang pendidikan, kesehatan yang memiliki tubuh dan jiwa yang sehat, dan berahlak mulia. (**)

 

         

loading...

Check Also

Pemkab Bangka Percepat Validasi Objek PBB-P2

WARTABANGKA, SUNGAILIAT – Pemerintah Kabupaten Bangka mempercepat validasi data objek Pajak Bumi Bangunan Sektor Perkotaan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *