Kisah Hendra Si Peternak Murai Batu, Tetap Eksis di Tengah Pandemi Covid-19
Banner DPRD Babel Bateng Covid 19
HomeUmumWartaNewsSumatraDaerahPangkalpinangBangkaBangka BaratBangka TengahBangka SelatanPolitikPemerintahanDPRDPemiluBisnisKeuanganMacroMicroSportOtomotifModifikasiBolaLiga SpanyolLiga InggrisLiga ChampionsLiga ItaliaLiga IndonesiaTechnoTravelKulinerRekreasiJalan-jalanReligiHikmah RamadanLainnyaVideo

Kisah Hendra Si Peternak Murai Batu, Tetap Eksis di Tengah Pandemi Covid-19

Kisah Hendra Si Peternak Murai Batu, Tetap Eksis di Tengah Pandemi Covid-19
Burung Murai Batu (Copsychus Malabaricus), dikenal sebagai primadona burung. Murai Batu, tergolong dalam jenis burung yang jenius karena memiliki kicauan yang spesifik. WARTABANGKA.COM/BAYU

WARTABANGKA.COM, PANGKALPINANG - Trotol, mabung hingga gacor, sederetan sebutan ini kerap diceritakan para pencinta burung murai batu.

Burung murai batu dalam bahasa latinnya Copsychus Malabaricus ini, memang cukup dikenal sebagai primadona burung peliharaan. 

Dan popularitas burung ini pun terlihat dari berbagai penyelenggaraan kontes burung peliharaan. 

Kelas burung murai batu selalu menjadi kelas paling bergengsi.

Hendra, peternak pemula burung Murai Batu yang ada di Kelurahan Opas Indah Kota Pangkalpinang ini kepada wartabangka.com menceritakan awal mula ia mulai serius tertarik untuk bergelut sebagai pelaku kicau mania.  

"Kalau untuk peternakan murai batu sendiri, saya baru memulainya dua bulan lebih. Tapi kalau untuk mengenal murai batu sudah sejak tahun 1997 dan memelihara sampai 2001. Tahun 2001, saya masih megang dua ekor dan sempat vakum. Meski vakum, tapi saya tetap terus mengikuti perkembangan murai batu," katanya.

"Kontes murai batu di luar Bangka sudah booming sejak tahun 2004. Setahu saya apalagi sejak ada kontes di Pangkalpinang Tahun 2006, peminatnya semakin banyak," imbuhnya.

Ketertarikan duda 54 tahun ini memilih burung yang dikenal dengan kucica hutan itu, karena murai batu tergolong burung yang sangat jenius dan kicauannya sangat spesifik.

"Bisa mengikuti suara binatang lain. Baik itu jangkrik, kucing, ayam dan suara burung yang lain dengan gayanya sendiri. Makanya sejak dulu, murai batu bisa disebut primadonanya burung. Apalagi kalau sudah mengikuti kontes dan menang, harga murai batu bisa tidak terbilang. Bahkan ada yang berani membeli Rp1 miliar," tuturnya.

Ayah dua anak ini menyebutkan, murai batu dikenal dalam dua varian, yaitu ekor pendek dan panjang. 

Adapun untuk murai batu yang sering ikut dalam kontes burung, cenderung yang sudah memiliki ekor pendek dengan ukuran 20 centimeter ke bawah.

"Bahkan, kalau sudah menang kontes, pencinta murai batu berani inden hingga induknya enam kali produksi, harganya biasanya Rp3 jutaan," sebutnya.

Lalu, katanya, ada murai batu ekor panjang. Jenis ini, untuk ukuran panjang ekornya 20-25 centimeter harganya variatif Rp2juta hingga Rp3 juta sedangkan di atas 25 centimeter biasanya berkisar Rp10 juta.

"Kendati masa pandemi virus Corona saat ini, penjualan anakan murai batu masih ada, namun memang mempengaruhi penjualannya yang turun 70 persen. Alasannya, tidak ada kontes tidak ada yang beli dan imbasnya juga kepada peternak," tutupnya. (*/)

penulis: Bayu

Komentar Via Facebook