Nujuh Likur Desa Mancung Digelar 31 Mei, Tahun Ini Hanya Enam Gapura
Banner DPRD Babel
HomeUmumWartaNewsSumatraDaerahPangkalpinangBangkaBangka BaratBangka TengahBangka SelatanPolitikPemerintahanDPRDPemiluBisnisKeuanganMacroMicroSportOtomotifModifikasiBolaLiga SpanyolLiga InggrisLiga ChampionsLiga ItaliaLiga IndonesiaTechnoTravelKulinerRekreasiJalan-jalanReligiHikmah RamadanLainnyaVideo

Nujuh Likur Desa Mancung Digelar 31 Mei, Tahun Ini Hanya Enam Gapura

Nujuh Likur Desa Mancung Digelar 31 Mei, Tahun Ini Hanya Enam Gapura
Masyarakat Desa Mancung Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat (Babar), menghiasi gapura dalam tradisi budaya Nujuh Likur. Ramadan 1440 H atau di Tahun 2019 ini, Nujuh Likur akan digelar Jumat (31/5) mendatang. dok. WARTABANGKA.COM/BAYU

WARTABANGKA.COM, PANGKALPINANG - Tradisi budaya Nujuh Likur (tujuh likur) akan kembali dilaksanakan di Desa Mancung, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka pada Jumat (31/5). Tradisi ini rutin digelar di Desa Mancung setiap bulan ramadan. 

Jika pada tahun 2018 lalu, setiap Rukun Tetangga (RT) menghiasi sebanyak 12 gapura, kali ini masyarakat Desa Mancung hanya menghiasi enam gapura saja.

Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Daerah Pemilihan (Dapil) Bangka Barat, Mansah kepada wartabangka.com, Minggu (26/5) mengatakan tradisi Nujuh Likur telah digelar sejak tahun 2003 lalu.

"Diawal tahun-tahun pelaksanaan dilakukan secara sederhana, dengan sendirinya masyarakat membuat gapura-gapura disamping rumah. Namun sejak Tahun 2005, inisiatif membuat perlombaan yang lebih besar, yaitu setiap RT.

"Jadi sudah berjalan 15 tahun. Sejak Tahun 2005, RT nya membuat gapura masing-masing yang dikoordinir oleh pemerintah desa. Baik itu biaya, paku, minyak tanah dan operasional kegiatan itu didukung oleh desa dan itu swadaya dari masyarakat," kata Mansah.

Politisi Partai Nasdem itu melanjutkan, tahun 2018 adanya permintaan oleh Gubernur Babel Erzaldi Rosman agar satu RT membuat dua gapura.  

"Namun untuk tahun ini, karena terkendala biaya, dimungkinkan hanya satu gapura per RT. Apalagi, ini masa transisi, karena kepala desanya ganti. Dari pak Karman ke Erlijon. Memang rencananya, akan mengundang santri dari beberapa pesantren namun itu masih direncanakan. Tapi untuk gapura, persiapan sudah matang sekitar 70 persen," katanya. 

Untuk informasi, Tradisi Nujuh Likur merupakan tradisi yang dilakukan sejak masa lalu secara turun-temurun oleh masyarakat Melayu dengan melakukan penyalaan lampu atau penerangan tradisional.

Baik itu yang ditempatkan di sekitar masjid, di sepanjang jalan, halaman rumah dan teras-teras rumah penduduk. Puncak tradisi ini biasanya dilakukan pada malam 27 Ramadan. Dimana setiap RT di Desa Mancung berlomba membuat gapura besar dengan api likur yang dinilai oleh tim dan diberi hadiah. 

Biasanya, ditahun sebelumnya, Malam Nujuh Likur dilaksanakan setelah Salat Tarawih. Sebelum dilaksanakan, acara dimulai dengan buka puasa bersama antarwarga dengan tradisi nganggung. (*)

penulis:

Komentar Via Facebook