Patung Thai Se Ja Jadi Lambang Kemakmuran Lingkungan
Banner DPRD Babel
HomeUmumWartaNewsSumatraDaerahPangkalpinangBangkaBangka BaratBangka TengahBangka SelatanPolitikPemerintahanDPRDPemiluBisnisKeuanganMacroMicroSportOtomotifModifikasiBolaLiga SpanyolLiga InggrisLiga ChampionsLiga ItaliaLiga IndonesiaTechnoTravelKulinerRekreasiJalan-jalanReligiHikmah RamadanLainnyaVideo

Patung Thai Se Ja Jadi Lambang Kemakmuran Lingkungan

Patung Thai Se Ja Jadi Lambang Kemakmuran Lingkungan
Patung Thai Tse Ja di Kelenteng Bakti, Parit 4, Sungailiat, Bangka, Kamis (15/8).WARTABANGKA.COM/ZEN

WARTABANGKA.COM, SUNGAILIAT - Masyarakat Tionghoa mempercayai semakin besar Patung Thai Tse Ja atau Raja Akhirat menjadi perlambang kemakmuran lingkungan setempat. Hal ini disampaikan Yanto, salah satu warga Tionghoa yang ditemui di sela-sela Sembahyang Rebut Kelenteng Bakti, Parit 4,  Sungailiat, Bangka, Kamis (15/8) malam.

Menurut Yanto, Sembahyang Rebut digelar setiap tanggal 15 bulan 7 penanggalan Imlek. Dikenal dengan Chit Ngiat Pan (sembahyang pertengahan bulan ke tujuh Imlek ) atau Sembahyang Rebut. Pada saat tersebut, pintu akhirat terbuka. Saat itulah, seluruh arwah akan turun ke bumi sejak permulaan bulan ke tujuh. 

"Diantara arwah tersebut, ada yang bergentayangan dalam keadaan terlantar. Sehingga mereka sangat membutuhkan persembahan makanan. Arwah yang terlantar ini karena tidak memiliki keturunan, meninggal tidak wajar dan lain-lain," jelas dia. 

Dipercayai selama kurun waktu setengah bulan kata Yanto, pintu akhirat terbuka. Sehingga arwah berkeliaran di alam manusia. "Mereka kembali ke akhirat pada malam tanggal 15 penanggalan Imlek," sambungnya. Patung Thai Se Ja inilah menurut Yanto, yang mencatat arwah gentayangan di bumi. Dimana, disimbolkan tangan kiri memegang buku dan tangan kanan memegang pena. 

Selain itu, di Patung Thai Se Ja juga kata Yanto, terdapat payung yang nanti akan dilakukan lelang. Payung tersebut biasanya kata dia harganya fantastis. Bisa belasan juta. "Dipercayai dapat membawa kemakmuran dan perlindungan. Nanti dilelang dan hasilnya masuk kas," ujarnya. 

Puncak Sembahyang Rebut menurut Yanto, dibukanya kain atau kertas merah penutup mata patung. Ada persembahan yang diperebutkan oleh masyarakat. Mulai dari beras, sayur-sayuran dan lainnya. 

"Ritual rebut diadakan pada tengah malam, jam 00.00 WIB. Setelah aba-aba diberikan, maka masyarakat dapat berebut. Hal inilah yang membuat sembahyang ini dikenal dengan Sembahyang Rebut," tutupnya.(*/ZEN)

penulis: ZEN

Komentar Via Facebook