Tren Bencana Alam Meningkat, 218 Juta Warga Tinggal di Daerah Rawan Bencana
Banner DPRD Babel
HomeUmumWartaNewsSumatraDaerahPangkalpinangBangkaBangka BaratBangka TengahBangka SelatanPolitikPemerintahanDPRDPemiluBisnisKeuanganMacroMicroSportOtomotifModifikasiBolaLiga SpanyolLiga InggrisLiga ChampionsLiga ItaliaLiga IndonesiaTechnoTravelKulinerRekreasiJalan-jalanReligiHikmah RamadanLainnyaVideo

Tren Bencana Alam Meningkat, 218 Juta Warga Tinggal di Daerah Rawan Bencana

Tren Bencana Alam Meningkat, 218 Juta Warga Tinggal di Daerah Rawan Bencana
Kepala Pendidikan dan Pelatihan Penanggulanngan Bencana BNPB, DR Bagus Tjahjono saat membuka acara Uji Publik Kurikulum dan Modul Srikandi Siaga Bencana oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana di Pia Hotel Pangkalpinang, Rabu (9/10).(IST)

WARTABANGKA.COM, PANGKALPINANG- Dalam tiga tahun terakhir kejadian bencana di Indonesia cenderung meningkat dan sebanyak 218.2 juta rakyat Indonesia tinggal di daerah rawan bencana.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana BNPB, DR Bagus Tjahjono saat membuka acara Uji Publik Kurikulum dan Modul Srikandi Siaga Bencana oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana di Pia Hotel Pangkalpinang, Rabu (9/10).

"Sebanyak 218, 2 juta rakyat kita tinggal di daerah rawan bencana, mulai dari gempabumi, tsunami, banjir, tanah longsor, serta kebakaran hutan dan lahan," ungkapnya.

Berbagai ancaman bencana ini kata Bagus, disebabkan oleh faktor alam maupun nonalam dan masih mengintai Indonesia. Setiap tahunnya ada kecenderungan peningkatan jumlah kejadian bencana.

"Setiap tahun kejadian bencana ada kecendrungan semakin meningkat, 97 persen disebabkan hidrometeorologi atau disebabkan oleh faktor alam," kata Bagus.

Lebih lanjut ia menjelaskan, pada 2016 tercatat 1.985 kejadian bencana, pada 2017 menjadi 2.341 kejadian dan 2018 terus meningkat menjadi 2.426 kejadian. Peningkatan tren kejadian bencana ini lanjut Bagus, sesungguhnya bukan hanya terjadi di Indonesia. Secara global, dalam tiga dekade berselang, jumlah bencana dilaporkan meningkat sekitar 350 persen.

"Selama 2000 hingga 2018, rata-rata kerugian ekonomi global akibat bencana mencapai US$111 miliar. Bukan hanya terjadi di negara berkembang, negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Selandia Baru juga mengalami bencana dengan korban dan kerugian sangat besar. Ini membuktikan tidak ada negara di dunia yang betul-betul bebas dari ancaman bencana," terangnya.

Di masa mendatang, Bagus menambahkan, ancaman bencana akan semakin meningkat disebabkan meningkatnya kerentanan, antara lain akibat perubahan iklim global, penurunan kualitas lingkungan, kondisi geografis, kemiskinan, rendahnya tingkat kesiapan masyarakat, pendidikan rendah, urbanisasi, dan pertumbuhan penduduk.

"Ancaman bencana ini akan semakin meningkat, untuk itu membangun ketangguhan keluarga dalam menghadapi situasi darurat bencana harus lebih digalakan," pungkasnya. (*/IFG)

penulis: IFG

Komentar Via Facebook