Pertumbuhan Ekonomi Babel Melambat, Ini Penjelasan Bank Indonesia
Banner DPRD Babel Bateng Covid 19
HomeUmumWartaNewsSumatraDaerahPangkalpinangBangkaBangka BaratBangka TengahBangka SelatanPolitikPemerintahanDPRDPemiluBisnisKeuanganMacroMicroSportOtomotifModifikasiBolaLiga SpanyolLiga InggrisLiga ChampionsLiga ItaliaLiga IndonesiaTechnoTravelKulinerRekreasiJalan-jalanReligiHikmah RamadanLainnyaVideo

Pertumbuhan Ekonomi Babel Melambat, Ini Penjelasan Bank Indonesia

Pertumbuhan Ekonomi Babel Melambat, Ini Penjelasan Bank Indonesia
Pertemuan tahunan Bank Indonesia (BI) Babel, Selasa (10/12). WARTABANGKA.COM/TWO

WARTABANGKA.COM, PANGKALPINANG - Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengalami perlambatan meskipun tetap mengalami pertumbuhan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Babel, Tantan Heroika mengatakan selama 2019, pertumbuhan ekonomi Babel pada triwulan I, II dan III hanya sebesar 2,82%, 3,47% dan 3,05%.

"Penopang pertumbuhan ekonomi Babel masih didominasi oleh konsumsi rumah tangga dan investasi di tengah kinerja ekspor yang menurun," kata Tantan dalam pertemuan tahunan Bank Indonesia, Selasa (10/12).

Dia mengatakan, dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian tumbuh membaik di tengah perlambatan sektor perdagangan dan terkonstraksinya sektor pertambangan serta sektor industri pengolahan.

Upaya pemerintah daerah untuk peningkatkan kunjungan wisata, sebutnya, melalui penyelenggaraan even kegiatan berskala nasional maupun internasional mampu menahan laju pelambatan sektor perdagangan. 

Sementara itu, dari sisi perkembangan harga, inflasi Babel masih terkendali pada sasaran inflasi Nasional sebesar 3,5 ± 1%. Sampai dengan November 2019 inflasi Babel tercatat 1,95% (ytd). Kondisi pertumbuhan ekonomi Babel juga tercermin dari kinerja sistem keuangan yang mengalami pelambatan.

"Harga komoditas yang masih rendah menyebabkan pendapatan masyarakat masih terbatas sehingga memperlambat pertumbuhan DPK  perbankan," ulas Tantan. 

Realisasi kredit menurut lokasi proyek di Babel, tambah Tantan, hingga Oktober 2019 mengalami perlambatan disebabkan adanya penurunan aktivitas produksi dan investasi korporasi di sektor pertambangan dan industri pengolahan.

"Meskipun demikian, kinerja intermediasi perbankan tercatat masih tinggi dengan risiko kredit bermasalah terjaga rendah. Hal ini tercermin dari peningkatan nilai Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mencapai 126,67% dan rendahnya rasio NonPerforming Loan (NPL) yang terjaga pada level 1,37%," imbuhnya.

Selain tercermin dari kinerja sistem keuangan perbankan, kata dia, perlambatan pertumbuhan ekonomi Babel juga tercermin dari melambatnya aktivitas sistem pembayaran nontunai melalui BI-RTGS dan SKNBI.

"Untuk menghadapi tantangan perlambatan ekonomi yang terjadi secara global, nasional, maupun regional, kebijakan sistem pembayaran terus diarahkan untuk mendukung elektronifikasi dan efisiensi pembayaran dalam berbagai transaksi ekonomi,"ujarnya.

Dia menambahkan, program elektronifikasi pembayaran nontunai di berbagai area seperti penyaluran program sosial pemerintah, moda transportasi, dan operasi keuangan pemerintah daerah terus diperluas sehingga mampu mendorong daya beli dan konsumsi masyarakat. (*/)

penulis: TWO

Komentar Via Facebook