Gelar Aksi, Ratusan Nelayan Tegaskan Tolak KIP Masuk Perairan Matras
Banner DPRD Babel
HomeUmumWartaNewsSumatraDaerahPangkalpinangBangkaBangka BaratBangka TengahBangka SelatanPolitikPemerintahanDPRDPemiluBisnisKeuanganMacroMicroSportOtomotifModifikasiBolaLiga SpanyolLiga InggrisLiga ChampionsLiga ItaliaLiga IndonesiaTechnoTravelKulinerRekreasiJalan-jalanReligiHikmah RamadanLainnyaVideo

Gelar Aksi, Ratusan Nelayan Tegaskan Tolak KIP Masuk Perairan Matras

Gelar Aksi, Ratusan Nelayan Tegaskan Tolak KIP Masuk Perairan Matras
Aksi ratusan nelayan dari sejumlah wilayah menolak KIP Masuk ke perairan Matras, Selasa (10/12). WARTABANGKA.COM/ZEN

WARTABANGKA.COM, SUNGAILIAT - Ratusan nelayan dan warga lingkungan Matras melakukan aksi penolakan rencana masuknya Kapal Isap Produksi (KIP) di perairan laut Matras, Selasa (10/12). 

Aksi berlangsung di talud dekat tambatan perahu Pantai Matras. Turut serta dalam aksi itu nelayan Sinarjaya, Jelutung, Air Antu, Bedukang, Tuing dan Mapur. Ikut bergabung nelayan Tutut, Mentabak, Pemali dan sebagainya.

Syamsu Budiman mewakili warga Kelurahan Matras dan Kelurahan Sinar Baru mengatakan penolakan atas segala aktivitas penambangan di laut Pantai Matras karena banyak nelayan tradisional yang mencari nafkah.

"Kalau tidak ada laut ini rasanya berat mencari beras, menyekolahkan anak dan kebutuhan lainnya. Laut ini andalan masyarakat karena masyarakat ini sudah familiar dengan lingkungan penangkapannya dan kawan-kawan nelayan melaut tidak terlalu jauh, di sekitar sini saja," kata Syamsu.

Menurutnya, nelayan setempat menggunakan alat tangkap yang jangkauannya tidak jauh karena kemampuan perlengkapan yang sangat minim dan tradisional. 

"Untuk itu kami mohon pengertian kepada pihak PT Timah jangan memaksa diri untuk merambah wilayah tangkap nelayan Matras dan sekitarnya. Kami mohon supaya tidak terjadi konflik karena 2015 yang lalu kami telah mendatangi kantor gubernur dan langsung ketemu dengan gubernur dan ketua DPRD," sebutnya.

Dia kembali menegaskan yang melaut di Matras bukan hanya nelayan Matras saja, karena ada nelayan asal Sinar Jaya Jelutung, Pemali dan dari daerah lainnya.

Perwakilan warga lainnya, Sunaidi sekaligus Kadus Tuing, Desa Mapur menyatakan, ia mewakili nelayan yang ada di Dusun Tuing dan Mapur pada umumnya menyatakan menolak keras tambang laut dalam bentuk apapun.

"Kami berharap laut dapat dinikmati sampai ke anak cucu kami. Jadi kami menolak keras tambang laut sampai kapanpun," ujar Sunaidi. 

Penolakan diutarakan juga Suhardi alias Ngikiw dari nelayan Air Antu yang menyatakan pihaknya bersama nelayan Matras, sampai Tuing, Pesaren menolak keras pertambangan. Penolakan telah dilakukan sejak tahun 2007 karena menyangkut hajat hidup nelayan. 

"Kalau KIP mau masuk operasi di wilayah Matras dan sekitarnya itu terpaksa anarkis, kita bukan tidak mentaati hukum kita nelayan ini mentaati hukum, tetapi bapak-bapak di atas tidak mendengar apa aspirasi kita di nelayan," tegasnya.

Aksi spontanitas warga ini kemudian berakhir dengan damai. Warga kemudian kembali ke aktivitas masing-masing dan siap berkumpul kembali bila KIP masuk ke perairan laut Pantai Matras. (*/)

penulis: ZEN

Komentar Via Facebook