Dinkes Sebut Penderita Gizi Buruk di Bateng Berkurang
Banner DPRD Babel Fraksi PPP DPRD Babel
HomeUmumWartaNewsSumatraDaerahPangkalpinangBangkaBangka BaratBangka TengahBangka SelatanPolitikPemerintahanDPRDPemiluBisnisKeuanganMacroMicroSportOtomotifModifikasiBolaLiga SpanyolLiga InggrisLiga ChampionsLiga ItaliaLiga IndonesiaTechnoTravelKulinerRekreasiJalan-jalanReligiHikmah RamadanLainnyaVideo

Dinkes Sebut Penderita Gizi Buruk di Bateng Berkurang

Dinkes Sebut Penderita Gizi Buruk di Bateng Berkurang
Kepala Dinkes Bateng, Bahrun Siregar

WARTABANGKA.COM, KOBA - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bangka Tengah (Bateng), Bahrun Siregar menyebutkan jumlah penderita gizi buruk di daerah itu berkurang pada tahun 2019 menjadi lima orang. Dia menyebutkan, di tahun 2018 jumlah penderita mencapai 12 orang.

"Bagi penderita kita berikan treatment khusus  dengan cara mendatangi langsung ke rumah mereka. Petugas kesehatan juga rutin  memberikan nutrisi tambahan yang mengandung protein tinggi hingga kondisinya membaik seperti sekarang," kata Bahrun, Jumat (14/2).

Selain treatment khusus yang diinstruksikan bupati, Bahrun mengungkapkan pihaknya juga membuatkan kartu BPJS Kesehatan gratis bersumber dari APBD Bateng bagi mereka yang belum memiliki kartu BPJS Kesehatan.

"BPJS gratis tersebut digunakan oleh mantan penderita gizi buruk untuk mengecek kondisi fisik secara rutin dan berobat secara gratis ke puskesmas setempat," ungkapnya.

Pihaknya, tambah dia, juga diintruksikan bupati agar rutin melakukan pendataan dengan turun ke lapangan atau melaksanakan jemput bola terhadap penderita gizi buruk.

"Hasil pendataan tersebut, ditemukan lima orang penderita gizi buruk tahun 2019 kemarin. Data yang ada ini rill, pihaknya melalui petugas lapangan langsung mendatangi rumah-rumah warga. Data ini bukan berdasarkan laporan warga, melainkan jemput bola kelapangan," ulasnya.

Menurutnya, 5 orang penderita gizi buruk yang terdata sekarang ini tidak murni disebabkan oleh minimnya asupan nutrisi dan protein seperti tahun 2018, akan tetapi oleh penyakit penyerta. Penyakit penyerta tersebut, antara lain sakit paru-paru, liver, leukimia, sehingga konsentrasi yang dilakukan mengobati penyakit penyerta terlebih dahulu.

"Kami akan terus memantau perkembangan semua penderita gizi buruk yang disebabkan oleh penyakit penyerta tersebut. Kami berharap penyakit penyerta yang di derita segera sembuh, selanjutnya kita fokuskan kepada gizi buruknya," kata Bahrun.

Dia mengungkapkan penyebab terjadinya gizi buruk, antara lain dikarenakan pernikahan dini. Pasangan yang menikah dini ini kebanyakan malu datang ke posyandu, jadi tidak rutin mengecek kondisi kehamilannya.

"Di posyandu, pihak kita rutin mengecek kondisi bayi dan ibu hamil. Petugas kesehatan yang hadir juga rutin memberikan makanan tambahan, dengan harapan janin bayi tumbuh sehat dan lahirnya tidak kekurangan gizi," ungkap Bahrun.

Bahrun mengimbau kepada ibu hamil agar tidak mengkonsumsi obat-obatan di luar resep dokter. Dia meminta ibu hamil dapat berkonsultasi ke bidan desa, atau bisa rutin datang ke posyandu.

"Kami juga konsisten menangani semua kasus gizi buruk, treatment khusus terus dilakukan secara intens sehingga setiap tahun penderita gizi buruk di Bangka Tengah menjadi zero," pungkasnya. (*/)
 

penulis: RN

Komentar Via Facebook