Heryawandi: Eksportir Tertawa, Petani Lada Sengsara
Banner DPRD Babel Fraksi PPP DPRD Babel
HomeUmumWartaNewsSumatraDaerahPangkalpinangBangkaBangka BaratBangka TengahBangka SelatanPolitikPemerintahanDPRDPemiluBisnisKeuanganMacroMicroSportOtomotifModifikasiBolaLiga SpanyolLiga InggrisLiga ChampionsLiga ItaliaLiga IndonesiaTechnoTravelKulinerRekreasiJalan-jalanReligiHikmah RamadanLainnyaVideo

Heryawandi: Eksportir Tertawa, Petani Lada Sengsara

Heryawandi: Eksportir Tertawa, Petani Lada Sengsara
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Heryawandi.

WARTABANGKA.COM, PANGKALPINANG - Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Heryawandi, meminta konsistensi negara untuk membela hajat hidup para petani lada.

Pasalnya, turunnya harga lada justru menguntungkan para eksportir lada sedangkan petani lada semakin terpuruk.

Hal itu disampaikannya, dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama Kementerian Perdagangan, belum lama ini.

"Lada ini hajat hidup orang banyak. Kita punya IG (Indeks Geografis) dan sudah ditetapkan menjadi sentral, tapi efeknya tidak ada sama sekali. IG ini kita ingin ada penegasan kembali agar dia punya taring termasuk mungkin menjadi salah satu syarat untuk ekspor, agar barang ini berfungsi," katanya.

Baca juga: Belanda Mau Impor Lada Babel, Harganya Rp300 Ribu Per Kilogram

Politisi Partai Golkar itu melanjutnya, permintaan dan kebutuhan akan lada, diakuinya menjadi salah satu penyebab turun atau naiknya harga. Karenanya ia berharap, negara hadir untuk mengatasi masalah tersebut.

"Saya yakin, Vietnam belajar ke Bangka Belitung, tapi negaranya hadir untuk menguasai itu. Sehingga ketika terjadi persaingan mereka sudah mempersiapkan itu. Padahal dulu, kita menguasai 50 persen pasar dunia, itu mayoritas dari Bangka Belitung," ujarnya.

"Kita tegaskan, lada ini hajat hidup orang banyak Bangka Belitung dan negara harus hadir untuk mengatasi ini. Cuma memang, negara ini tidak konsisten menjalankan sistem ini. Semua sektor sudah dikuasai oleh kapitalis, termasuk lada ini," imbuh Wakil Ketua Bidang Lingkungan Hidup DPD Partai Golkar Babel itu.

Persoalan lada jelasnya, agak berbeda dengan pertanian lainnya, misalnya sawit yang kebanyakan dikuasai oleh kapitalis.

"Kalau lada, yang bercocok tanam itu petani. Tidak ada ekspor yang punya kebun besar, ada tapi tidak besar dan tidak memungkinkan kuotanya untuk diekspor. Termasuk bicara untuk pemasarannya. Saya berharap, pemberdayaan petani hingga pengekspornya itu adalah petani, kalau kita sama-sama turun untuk mengatasi ini. Kalau cuma butiran, memungkinkan petani untuk mengekspor, melalui koperasi," sebut Legislator daerah pemilihan (Dapil) Kabupaten Bangka Barat ini.

"Memang para kapitalis yang tergabung dalam asosiasi ekportir lada, sudah lama menjadi momok bagi petani. Ketika harga lada itu turun, mereka tertawa. Karena logikanya sederhana, mereka hari ini tandatangan kontrak dengan pembeli, misalnya kontrak 60 ribu, kedepan kalau harga turun mereka sudah mendapatkan keuntungan sekian banyak, yang menjerit dan sengsara adalah petani. Sekali lagi saya menegaskan, kita menuntut negara untuk hadir menghadapi masalah ini," tandasnya. (*)

penulis:

Komentar Via Facebook