Warga Tionghoa Sepakat Jalani Ritual Cheng Beng di Rumah
Banner DPRD Babel Fraksi PPP DPRD Babel
HomeUmumWartaNewsSumatraDaerahPangkalpinangBangkaBangka BaratBangka TengahBangka SelatanPolitikPemerintahanDPRDPemiluBisnisKeuanganMacroMicroSportOtomotifModifikasiBolaLiga SpanyolLiga InggrisLiga ChampionsLiga ItaliaLiga IndonesiaTechnoTravelKulinerRekreasiJalan-jalanReligiHikmah RamadanLainnyaVideo

Warga Tionghoa Sepakat Jalani Ritual Cheng Beng di Rumah

Warga Tionghoa Sepakat Jalani Ritual Cheng Beng di Rumah
Etnis Tionghoa melakukan persiapan dengan membersihkan makam di Pekuburan Sentosa, Pangkalpinang, Kamis (26/3). Ketua Pengurus Harian Yayasan Sentosa, Johan Riduan Hasan saat konferensi pers di Posko Covid-19 eks terminal VIP lama Bandara Depati Amir menyampaikan, sepakat mengikuti instruksi pemerintah, untuk tetap melaksanakan ritual Cheng Beng atau Festival Qingming, dirumah saja. WARTABANGKA.COM/BAYU

WARTABANGKA.COM, PANGKALPINANG - Ditengah mewabahnya Corona Virus Disease (Covid-19), warga Etnis Tionghoa yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) sepakat mengikuti instruksi pemerintah, untuk tetap melaksanakan ritual Cheng Beng atau Festival Qingming, dirumah saja.

"Setelah rapat bersama Walikota, dan kami membahas bersama pembina dan pengurus yayasan, kami juga sudah sosialisasikan ke karyawan pengurus yayasan dan warga Tionghoa, sepakat melaksanakan Cheng Beng dirumah saja," kata Ketua Pengurus Harian Yayasan Sentosa, Johan Riduan Hasan, saat konferensi pers di Posko Covid-19 eks terminal VIP lama Bandara Depati Amir, Pangkalpinang, Kamis (26/3).

Ritual Cheng Beng, kata dia, dimulai sejak 5.000 tahun yang lalu saat pembangunan tembok besar di China, ritual ini tujuannya seperti ritual tolak bala, yang kala itu terjadi sakit penyakit maupun malapetaka.

"Cheng Beng diizinkan kalau nggak dikuburan, ya di rumah.  Saya pikir dimana saja bisa, walaupun tinggal di Jakarta leluhurnya di Bangka, ini kondisi yang luar biasa, untuk apa datang kesini? Kita cari aman lah demi keamanan dan kesehatan semuanya," jelas pria yang kerap disapa Johan Aping ini.

Meskipun demikian, ia mengakui memang ada warga etnis yang dari luar Babel sudah datang, tetapi tetap saja melaksanakan Cheng Beng dirumah, bukan di pekuburan.

"Kalau yang sudah masuk saya nggak tau pastinya ya, cuma yang jelas tidak sebanyak tahun lalu, banyak yang memilih tidak pulang ke Babel, karena kondisi sekarang ini," ulasnya.

Keluarga besarnya, yang ada di Jakarta juga memilih tidak pulang dan melaksanakan ritual di rumah masing-masing.

"Keluarga besar saya semuanya nggak pulang dan memang saya bilang untuk tidak usah pulang, ritual bisa dirumah," tandasnya.

Sementara dari luar negeri, juga dipastikan tidak akan masuk ke Babel.

Apalagi Indonesia sudah menjadi pandemi Corona, apabila warga asing masuk dan kembali ke negaranya, akan dikarantina selama dua minggu.

"Mudah-mudahan dengan menjaga untuk tidak menghadiri kegiatan yang dihadiri banyak orang ini, bisa memutus penularan Covid-19 ini, mudah-mudahan nggak ada lah di Babel," harapnya.

Pihak yayasan, tambahnya, juga memasang spanduk di empat pintu masuk menuju perkuburan Sentosa, mengimbau bahwa pelaksanaan ritual Cheng Beng di rumah saja.

Dengan kondisi ini, ia mengaku warga etnis juga sudah parno dengan Covid-19, bahkan karyawan Yayasan Sentosa takut menguburkan jenazah, karena dikira meninggal karena Covid-19.

"Repot juga kalau demikian, kemarin saya hampir jadi tukang kubur jenazah, karena karyawan takut. Saya bilang yang meninggal bukan karena Covid-19, jadi jangan takut," ulasnya.(*/)

penulis: TWO

Komentar Via Facebook