Kualitas Air Bangka Belitung

Oleh : Sri Heldawati, S.T

Pengendali Dampak Lingkungan DLH Prov.Kep.Bangka Belitung

Air merupakan salah satu unsur sumber daya alam yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Sumber air merupakan wadah air yang terdapat di atas dan di bawah permukaan tanah, termasuk akuifer, mata air, sungai, rawa, danau, situ, waduk dan muara yang menjadi salah satu modal dasar dan faktor utama dalam pembangunan.

Penggunaan air secara luas dalam kehidupan manusia digunakan secara dominan dalam pemenuhan kebutuhan domestik rumah tangga. Selain itu, air merupakan salah satu raw material pada seluruh kegiatan industri, baik sebagai bahan utama ataupun sebagai bahan pendukung dari suatu kegiatan industri. Untuk menjaga fungsi air maka perlu dilakukan usaha dalam pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air secara bijaksana dengan memperhatikan kepentingan generasi sekarang dan mendatang serta keseimbangan ekologis.   

Sumber air pada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terbagi menjadi air permukaan berupa sungai, embung, dan air tanah. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki panjang sungai 10.514 KM berdasarkan data hidrologi Inageoportal -BIG 2020. Sungai ini terbagi atas sungai besar dan kecil serta tersebar diseluruh Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Sungai besar yang melintasi dua kabupaten adalah Sungai Baturusa yang berada pada Kabupaten Bangka dan Kota Pangkalpinang dan Sungai Buding yang berada pada Kabupaten Belitung dan Belitung Timur. Selain itu terdapat pula sungai besar yang berada pada tiap kabupaten/kota yaitu Sungai Rangkui yang membelah Kota Pangkalpinang, Sungai Kurau dan Sungai Selan yang berada di Kabupaten Bangka Tengah, Sungai Bangka kota dan Sungai Kepoh yang berada di Kabupaten Bangka Selatan, Sungai Semenduk pada Kabupeten Bangka, Sungai Mancung berada pada Kabupaten Bangka Barat, Sungai Cerucuk yang berada pada Kabupaten Belitung dan Sungai Lenggang yang berada pada Kabupaten Belitung Timur.

 Sumber air lainnya yang terdapat pada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah Kolong dan Embung. Kolong merupakan lubang bekas penambangan timah yang memiliki cekungan dan dapat menampung air hujan. Kualitas air pada kolong sangat tergantung pada usia Kolong. Kolong muda merupakan kolong yang baru terbentuk dengan usia kurang dari 5 tahun dengan karakteristik air memiliki pH 2 – 4 dan mengandung logam berat yang tinggi. Kolong menengah adalah kolong yang memiliki usia 5 – 20 tahun dengan karakteristik logam di air masih cukup tinggi dan pH berkisar pada 4 – 5. Kolong tua adalah kolong yang memiliki kondisi biogeofisik yang sudah normal dengan pH berkisar pada 5.5 – 7 (Henny dan Susanti, 2009). Embung adalah bangunan konservasi air berbentuk kolam untuk menampung air hujan dan limpasan serta sumber air lainnya untuk mendukung usaha pertanian, perkebunan dan peternakan terutama pada saat musim kemarau. Luasan total dari kolong dan embung pada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah 2.623 Ha dengan kemampuan menampung volume air sebesar 95 juta kubik air.

Jika dilihat dari ketersediaan air yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memang dalam kondisi surplus, namun dari sisi kualitas air masih terdapat berbagai permasalahan dengan rendahnya hasil pemantauan untuk beberapa parameter kualitas air dan degredasi kualitas air yang terjadi memerlukan tinjauan dan respons penanganannya. Jika dilihat dari analisis peta Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dari tahun 1996, 2006 dan 2016 memperlihatkan degredasi kualitas penyediaan air bersih dari tahun 1996,2006 dan 2016.

Sebagai sumber daya alam yang utama, potensi sumber air pada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung khususnya sungai menjadi kebutuhan prioritas dalam pengelolaan dan pengendaliannya. Usaha dalam pengelolaan dan pengendalian sungai ini dilakukan dengan melakukan pemantauan sungai secara berkelanjutan agar mendapatkan informasi yang utuh mengenai perubahan kualitas air sungai secara terus menerus. Jumlah titik pantau sungai yang dilakukan secara berkala berjumlah 43 titik yang tersebar pada 11 sungai besar dan dilakukan dalam 3 kali periode yang mewakili musim panas, musim peralihan/pancaroba dan musim kemarau.

    Meningkatnya aktivitas ekonomi dan pembangunan dalam berbagai sektor memiliki dampak positif dan negatif bagi lingkungan. Dalam setiap aktivitas manusia baik berupa personal maupun aktivitas dalam kelompok /industri akan selalu menghasilkan dampak negatif pada lingkungan yang berupa limbah. Limbah yang dihasilkan dapat berupa limbah cair, padat maupun gas. Limbah ini yang akan selalu menjadi faktor yang menekan daya dukung lingkungan dan menurunkan kualitas air sungai. Menurunnya kualitas air sungai merupakan indikasi telah terjadi penambahan zat kontaminan ke dalam air sungai yang berasal dari aktivitas manusia baik secara langsung ataupun tidak langsung. Peningkatan aktivitas industri pada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga akan memberikan dampak langsung pada kualitas lingkungan secara menyeluruh. Kegiatan industri akan menyumbang effluent limbah yang berupa limbah cair, B3, maupun emisi. Aktivitas lain yang dapat menjadi driving force dalam penurunan kualitas lingkungan adalah aktivitas tambang illegal yang terjadi pada daerah aliran sungai (DAS). Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang memiliki barang tambang berupa Timah (Sn) memicu penambangan illegal yang memiliki kontribusi dalam menekan lingkungan khususnya kualitas air sungai.

    Tingkat perubahan lingkungan yang terjadi seperti penurunan kualitas air baik yang berasal dari air sungai, kolong/embung, dan kualitas pesisir/air laut sebagai muara dari semua DAS yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kondisi kualitas air dapat diketahui dari pemantauan yang dilakukan secara rutin dan terus menerus.  Berdasarkan data historis Indeks Kualitas Lingkungan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, trend Indeks Kualitas Air (IKA) provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2018 jika dibandingkan dengan klasifikasi kualitas air NSF-WQI masih berada dalam kreteria baik. Untuk Indeks Kualitas Air pada tahun 2018 dan sebelumnya masih dihitung berdasarkan dua sungai yaitu Sungai Baturusa dan Sungai Buding dengan dana Dekonsentrasi dari KLHK. Jika dilihat data trend IKA Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dari tahun 2015-2018 pada tahun 2017 terjadi penurunan IKA, pada tahun 2017 juga terdapat perubahan metodologi perhitungan IKA, IKA dihitung dengan status mutu kelas I PP No.82 Tahun 2001, sedangkan tahun 2018 kembali ada perbaikan metodologi perhitungan IKA, ada penambahan jumlah parameter yang digunakan menjadi 10 parameter yaitu: DO, Fecal coliform, COD pH,BOD,NH3-N,TP,TSS,NO3-N dan TDS dengan perhitungan bobot dan transformasi nilai sub indeks parameter kualitas air yang ditetapkan dalam metode Indeks Kualitas Air modifikasi Indonesia. Sedangkan Indeks Kualitas Air (IKA) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Tahun 2019 sebesar 76,81 nilai IKA ini dihitung berdasarkan pemantauan kualitas Sungai di 6 Kabupaten dan 1 Kota. Berdasarkan hasil perhitungan Indeks Kualitas Air (IKA-NSF) diatas memperlihatkan bahwa untuk 11 sungai yang dipantau kualitasnya sebagian besar masih berada pada klasifikasi baik dan cukup baik. Jika dilihat dari hasil perhitungan IKA-NSF tiap-tiap sungai yang dilakukan pemantauan, kemudian dirata-ratakan maka nilai IKA-NSF Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 76,81 dan jika dibandingkan dengan kriteria baru IKA maka IKA provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam kriteria cukup baik.

Sumber : Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah  Provinsi Kepulauan Bangka Belitung  Tahun 2019

loading...

Check Also

Hadirkan Telekomunikasi di Daerah Pelosok, Gubernur Babel Minta Komitmen Operator Seluler

WARTABANGKA, JAKARTA – Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Erzaldi Rosman meminta para operator seluler untuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *