Pengelolaan Sampah Perkantoran

SRI HELDAWATI, S.T

PENGENDALI DAMPAK LINGKUNGAN DLH PROV.KEP.BABEL

Aktivitas di lingkungan perkantoran tidak dapat dipisahkan dari kegiatan perkantoran dan konsumsi yang berdampak pada timbulan sampah seperti penggunaan kertas, tinta dan penggunaan barang-barang keperluan kantor lainnya serta konsumsi pegawai. Apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan permasalahan di lingkungan perkantoran. Penggunaan keperluan kantor yang tidak dilakukan secara terencana, efisien dan tepat guna, akan menyebabkan perkantoran menjadi salah satu kontributor penghasil sampah.

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah pasal (3), sampah perkantoran termasuk ke dalam jenis sampah rumah tangga yang berasal dari kawasan komersial, kawasaan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya. Dalam lampiran penjelasan pasal (3) disebutkan bahwa kawasan perkantoran termasuk dalam kawasan komersial.

Untuk itulah, pengelolaan sampah khususnya di area perkantoran perlu dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mencegah dampak akibat pengelolaan sampah yang tidak sesuai ketentuan maka akan menimbulkan pencemaran lingkungan.

Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Pengelolaan sampah bertujuan untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat serta menjadikan sampah menjadi sumber daya. Pengelolaan sampah perkantoran yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi aktivitas perkantoran, jenis sampah yang dihasilkan, pengelolaan yang dapat dilakukan hingga berkurangnya sampah residu di TPS sehingga penanganan yang dilakukan sesuai dengan jenis yang dihasilkan.

Secara umum aktivitas perkantoran akan menghasilkan sampah yang relatif sama. Aktivitas perkantoran dapat menghasilkan sampah anorganik dan sampah organik dan sampah yang mengandung B3/limbah B3, namun Sebagian besar sampah yang dihasilkan adalah sampah anorganik seperti kertas yang dihasilkan dari kegiatan surat menyurat, pembuatan dan penggandaan laporan dan lain sebagainya. Berdasarkan hal tersebut, maka pengelolaan sampah menggunakan prinsip 3R menjadi penting diterapkan untuk mengurangi timbulan sampah.

 Pengelolaan sampah dilingkup perkantoran memerlukan beberapa tahapan seperti pemilahan, pewadahan, pengumpulan, pengangkutan dan pengelolaaan sampah sebelum akhirnya diproses di tempat pemrosesan akhir (TPA). Pengelolaan sampah yang selama ini dilakukan harus diubah dengan cara mengubah perilaku pegawai/karyawan perkantoran.

Perubahan perilaku dapat dapat diperoleh dengan membangun kesadaran dan cara pandang tentang sampah, yaitu barang yang tak bernilai guna menjadi barang sisa hasil yang dapat dikelola menjadi memiliki nilai ekonomi. Dalam pengelolaan sampah dapat menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Untuk mengurangi timbulan sampah dan dampak negatif terhadap kesehatan pegawai dan lingkungan perkantoran. Pengelolaan sampah perlu dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari sumber sampai ke pemrosesan akhir agar memberikan manfaat secara ekonomi dan aman bagi lingkungan.

Pengelolaan sampah bisa dilakukan beberapa hal, diantaranya adalah pemilahan. Pada proses pemilahan dilakukan melalui kegiatan pengelompokan sampah menjadi paling sedikit lima jenis sampah yang terdiri atas : sampah yang mengandung B3 (bahan berbahaya dan beracun), sampah yang mudah terurai, sampah yang dapat digunakan Kembali, sampah yang dapat didaur ulang lagi dan sampah lainnya.Selanjutnya adalah pewadahan, yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis sampah untuk memudahkan dalam proses pengelolaan sampah lebih lanjut.

Tujuan dari pewadahan ini adalah untuk menghindari terjadinya sampah yang berserakan agar tidak berdampak buruk kepada Kesehatan, kebersihan, lingkungan dan estetika. Juga untuk memudahkan proses pengumpulan sampah dan membahayakan petugas pengumpul sampah dan menghindarkan kontaminasi antar jenis sampah.

Kemudian kegiatan pengumpulan sampah, ini dapat  dilakukan oleh pengelola perkantoran melalui petugas kebersihan. Pada saat pengumpulan, sampah-sampah yang telah dipilah tidak boleh dicampurkan Kembali. Petugas kebersihan sebagai pihak yang melakukan pengumpulan sampah harus diberikan pemahaman dan sosialisasi tentang jenis sampah dan dampak yang ditimulkan apabila tidak dilakukan pemilahan sampah. Pewadahan yang digunakan untuk pengumpulan dapat berupa wadah sampah dengan kapasitas lebih besar, namun tetap dipisahkan sesuai dengan jenis sampah yang dikumpulkan. Jadwal pengumpulan sampah dapat dilakukan minimal dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari.

Selanjutnya pengangkutan sampah yang dimulai dari titik pengumpulan terakhir dari suatu siklus pengumpulan sampah dilingkup perkantoran untuk diproses di tempat pemrosesan akhir atau biasa disebut TPA. Kegiatan pengangkutan sampah Sebagian besar memiliki kandala yang diantaranya adalah penggunaan waktu kerja yang tidak efisien, penggunaan kapasitas muat kendaraan yang tidak tepat, rute pengangkutan yang tidak efisien dan aksebilitas yang kurang baik.

Pengurangan timbulan sampah yang dapat dilakukan di pengantoran dengan melalui kegiatan 3R, yakni pembatasan timbulan sampah (Reduce) diantaranya mengurangi penggunaan Styrofoam dan plastik sebagai wadah makanan dan minuman, menyarankan kepada pegawai untuk membawa peralatan makan dan mnum pribadi, meminta kepada pihak katering untuk menyediakan alat makan yang dapat digunakan ulang pada saat rapat atau pertemuan, menggunakan tinta printer isi ulang daripada mengganti cartridge apabila tinta printer habis, mengurangi percetakan bahan rapat dengan mengirimkan bahan rapat melalui surat elektronik dan dalam bentuk digital, dan lain lain. Memanfaatkan kembali barang yang mash dapat digunakan (Reuse) diantaranya : menggunakan tumbler, tempat makan dan minum yang dapat digunakan berulang kali, menggunakan kembali folder, paper clips, cover, kardus bekas untuk menyimpan sementara dokumen. Mendaur ulang sampah (Recycle) misalnya mendaur ulang sampah organik menjadi kompos dan bisa digunakan untuk penyubur tanah di taman perkantoran.

Selain itu bisa dengan membentuk bank sampah perkantoran sehingga pengelolaan sampah kantor dapat lebih optimal. Pegawai perkantoran dapat ditugaskan sebagai pengelola bank sampah, dan seluruh pegawai bisa menjadi nasabahnya. Sehingga bisa mendapatkan manfaat ekonomi berupa saldo rupiah yang akan tercatat di tabungan bank sampah masing-masing nasabah. Hal ini dapat menjadi tambahan insentif nasabah.

Sumber : Pedoman Pelaksanaan 3R Pengelolaan Sampah Perkantoran  KLHK RI

loading...

Check Also

Pemkab Bangka Tengah Jalin Kerja Sama dengan PT Pegadaian

WARTABANGKA, KOBA – Wakil Bupati Bangka Tengah (Bateng), Herry Erfian membuka kegiatan sosialisasi pemanfaatan produk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *