pertanian

Jadi Mitra Binaan PT Timah Tbk, Ready’s Tabulampot Berhasil Tanam Berbagai Jenis Buah dalam Pot

Ready Tabulampot

WARTABANGKA, PANGKALPINANG – Metode pertanian terus berkembang, lahan bukanlah jadi masalah untuk bisa memulai usaha pertanian.

Tabulampot atau tanaman buah dalam pot salah satu teknik pertanian yang bisa dikembangkan di lahan sempit, namun memiliki ekonomis.

Tabulampot ini sudah mulai banyak digandrungi para petani, salah satunya Redy Eko Putra, salah satu petani Tabulampot di Kota Pangkalpinang.

Redy telah berhasil menanam berbagai jenis buah dengan metode ini.

Usaha Tabulampot Redy terbilang sukses, dimulai sejak tahun 2015 silam usahanya terus berkembang.

Dengan brand Ready’s Tabulampot, pria ini telah berhasil menanam berbagai jenis buah dalam pot.

Tak mudah memang mengembangkan usahanya, banyak hal yang dialaminya.

Bahkan dirinya tak sengaja mendapatkan inspirasi dari para pekerjanya untuk memulai usaha ini.

“Saya pada tahun 1989 merantau ke Jawa Barat dan pulang ke Bangka pada tahun 2004. Pulang itu saya kerja tambang. Dari rekan-rekan saya menemukan inspirasi   untuk memulai tabulampot dari mulai teknik perbanyakan bibit, sambungan tanaman dan lain-lain. Saya juga memanfaatkan youtube untuk menambah pengetahuan seputar tabulampot,” cerita Redy.

Usaha tambang yang digelutinya tak bertahan lama, di tahun 2013 usahanya tutup.

Lalu dirinya sempat menjadi pengangguran, hal itulah yang membulatkan tekadnya untuk memulai usaha Tabulampot.

“Acuannya itu mekarsari saat itu lagi booming, tanaman pertama kali itu jambu king rose apple, citra dan lilin. Itupun saya masih mengembangkan dengan ember bekas dan kaleng cat, waktu itu ada sekitar 40-an dan Alhamdullillah berhasil,” katanya.

Setelah itu, Redy juga mengembangkan tanaman toga, bunga-bunga hias.

Bahkan ia pernah meraih juara 1 untuk Toga tingkat Kota Pangkalpinang tahun 2015 silam.

Dalam mengembangkan usahanya, Redy mengaku terdapat kesulitan dalam hal modal usaha, namun ia beruntung ada seorang teman yang membantunya.

“Pada tahun 2015, pada awal buka bisnis ini modalnya bukan lagi dari 0 tetapi minus. Saya berusaha untuk menjalani bisnis ini karena mengingat saya harus menghidupi keluarga. Untungnya ada teman saya yang memberikan support dalam hal bantuan biaya.” Kata Ready

Ketika usahanya mulai berjalan, ia sempat merasa bahwa pendapatannya masih terbilang kurang untuk mencukupi keluarganya, sehingga akhirnya ia menambah varian tanaman untuk dijual.

“Awal bisnis itu menjual tanaman dari semua jenis toga, tetapi saya rasa sepertinya kalau hanya menjual jenis tanaman itu pendapatan  masih kurang. Akhirnya saya menjual berbagai varian tanaman seperti jeruk, alpukat, durian, dan lain lainnya guna menambah pendapatan,” katanya.

“Saya juga dulu jual kembang-kembang seperti aglonema dan lainnya sekitar 10 tahun lalu. Tapi karena ini hanya trend sesaat saya jadi gak lagi,” sambungnya.

Dalam usaha tabulampot ini, Ready juga memanfaatkan limbah rumah tangga sebagai pupuk organik.

“Untuk pupuk sendiri, saya membuatnya dengan limbah rumah tangga sehari-hari fungsi serta manfaatnya sama dengan pupuk buatan lainnya,” ujarnya.  

Permintaannya terus berkembang, bahkan pembelinya datang dari berbagai daerah di Luar Kota Pangkalpinang.

Hal inilah yang menjadi kendala baginya dalam mengantarkan pesanan lantaran tak punya kendaraan.

Semakin banyaknya permintaan untuk pengantaran Tabulampot, membuat Ia terus berpikir bagaimana caranya.

Akhirnya ia memutuskan untuk menjadi mitra binaan PT Timah Tbk untuk mengembangkan usahanya.

“Dulu itu ada orang yang ingin kita antarkan langsung tabulampotnya kerumah, tetapi karena terbatasnya sarana transportasi sehingga menghambat penjualan, karena gak ada kendaraan,” ceritanya.

Setelah menjadi mitra binaan PT Timah Tbk, hambatan tersebut dapat dihilangkan serta juga semakin membantu proses pemasaran Ready’s Tabulampot.

Kini ia jemput bola menjual tabulampotnya ke tempat-tempat keramaian.

“Dengan menjadi mitra binaan PT Timah Tbk saya beli kendaraan dan peralatan untuk mengembangkan usaha. Usaha saya menjadi terjamin dan tidak was-was karena merasa sudah aman dari sisi permodalan. Sekarang syukurnya dengan modal yang ada bisa lebih memudahkan pemasaran produk. Selain itu juga, sekarang saya sudah bisa keliling berjualan gak hanya menunggu di rumah,” ujar Ready

Pada saat ini, pesanan yang datang tidak hanya dari dalam Bangka saja melainkan dari berbagai kota di Indonesia lainnya, seperti  Jakarta, Lampung, Palembang dan lainnya.

Redy menyampaikan, ia melakoni usaha ini juga sebagai upaya untuk mengajak masyarakat untuk menghijaukan Babel dengan tanaman yang menghasilkan.

“Tujuannya menghijaukan Bangka Belitung, saya mau mematahkan anekdot, dak kejak (jangan-red) nanam di Bangka, kalau nanam dak idup (enggak hidup), kalaupun hidup dak bebuah, kalaupun bebuah masam,” ceritanya.

Untuk itulah, menjadi petani tabulampot menjadi cara dia mengkampanyekan, bahwa apapun bisa ditanam dengan kesungguhan dan niat.

Ia mengakui, tidak hanya berfokus dalam mencari keuntungan melalui usaha ini tapi juga mencapai visi  dapat menghijaukan Bangka Belitung melalui tabulampot.

Dalam menjual tanamannya, Ia juga memberikan Treatment kepada para pembeli untuk perawatan tumbuhan.

Bahkan dirinya memberikan garansi bagi para pembeli.

“Disini kalau ada yang beli bibit tanaman dari kita, kita kasih garansi apabila tanaman yang dibeli dalam waktu 3 bulan rusak atau gagal tumbuh akan kita gantikan dengan bibit yang baru,” sebutnya.

Bagi anda yang penasaran untuk melihat Ready’s Tabulampot bisa mendatangi lokasinya di Jalan Rasamala, Tuatunu. Bisa juga melalui akun facebook ready’s tabulampot dan nomor ponsel 081366054222. (*/rls)

Komisi II Sambangi Kelompok Tani di Belinyu

WARTABANGKA, BELINYU – Tak Hanya dibidang pertanian, peternakan pun memiliki andil yang cukup besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Salah satunya peternakan sapi dalam mempercepat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menjadi swasembada daging sapi.

Ketua Komisi II DPRD Babel Adet Mastur didampingi Heryawandi, Jumat (18/6) turun kelapangan untuk meninjau dan memastikan secara langsung persiapan Kelompok Tani Gunung Asam Kelurahan Air Asam, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, yang akan menerima bantuan sapi dan bibit pakan ternak.

Kehadiran Adet dan Heryawandi, langsung disambut Lurah Air Asam Agus Rafina dan Ketua kelompok Tani Gunung Asam Agus Laminto beserta anggota kelompok.

Dalam pertemuan tersebut, Adet Mastur mengatakan, untuk memastikan kesiapan dan kejelasan para kelompok tani yang akan menerima bantuan sapi dan bibit rumput pakan ternak, sehingga kelompok tani yang menerima bantuan tidak ada yang fiktif.

“Tahun ini ada bantuan dari pemerintah provinsi kepada kelompok tani yaitu 10 ekor sapi betina dan 1.250 polibek bibit rumput gajah sebagai pakan sapi,” jelas Adet.

Ia berharap, dengan adanya bantuan tersebut agar dapat dikelola dengan sebaiknya, sehingga dapat menumbuh kembangkan ternak sapi.

Sehingga, kebutuhan daging sapi disaat Idul fitri dan Idul Adha di Babel dapat terpenuhi.

“Kita kan ingin sapi di Babel ini tumbuh berkembang, dari 10 menjadi 20, 20 menjadi 40. Nanti cita-cita Bangka Belitung ini menjadi provinsi swasembada daging itu betul-betul terkabulkan, lewat bantuan dan para petani-petani ini,” harapnya.

Diketahui, Kelompok Tani Hutan Gunung Asam Belinyu memanfaatkan lahan eks tambang dan terus berusaha mengelola lahan tersebut dengan menabur bibit ikan Nila, Tomang dan Gurami.

Tak hanya itu, tampak disekeliling lahan eks tambang tersebut ditanami pohon kelapa sawit.
Selain itu, telah tersedianya kandang sapi, rumah bibit dan tempat menaruh pupuk beserta peralatan pertanian.

“Bagi yang berhasil maka akan kami kasih Reward, tapi bagi yang tidak berhasil dengan berbagai macam alasan maka akan kami kasih Punishment, Punismentnya tidak dapat lagi bantuan,” tegas Adet.

Sementara itu Ketua Kelompok Tani Gunung Asam, Agus Laminto menjelaskan, Kelompok Tani Gunung Asam beranggotakan 10 anggota. Pihaknya juga menghaturkan terima kasih atas perhatian dan kunjungan Komisi II DPRD.

“Kawasan hutan yang kami kelola ini kan lahan eks tambang, bukan tanah bagus jadi butuh kompos. Jadi, nanti dari hasil kotoran ternak itu bisa kami buat kompos,” tukasnya. (*/rls)

Bupati Bangka Panen Sayur di Kebun Hidroponik Setara

WARTABANGKA, SUNGAILIAT – Bupati Bangka Mulkan didampingi sejumlah pejabat di daerah itu melakukan panen sayuran di kebun Hidroponik Setara, Senin (8/3) pagi. Panen hidroponik kali kedua ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat.

“Sistem hidroponik yang dilakukan ini dapat menjadi percontohan bagi Kabupaten Bangka dan agar kedepan anak cucu kita mengetahui tentang sayuran hidroponik,” jelasnya.

Menurutnya, penanaman sayur mayur menggunakan sistem media hidroponik tidak memakan lahan yang luas, dan dapat dilakukan dengan lahan minimum.

“Dengan mengembangkan dan membudidayakan ini supaya tidak ada kekurangan dalam hal sayur mayur minimal untuk kebutuhan keluarga,” katanya.

Mulkan juga mengingatkan kepada pengelolaan kebun untuk dapat melakukan panen per tiga bulan sekali. Sehingga kata dia, terlihat progres nyata dari apa yang sudah dilakukan.

Sementara, pengelola kebun Dodi menyampaikan, kebun Hidroponik Setara ini merupakan awal ide dari bupati Bangka, sebagai kebun percontohan sayur sehat untuk masyarakat. Panen kali ini berkat hasil karya anak-anak pelajar yang sedang PKL dari Bangka Barat.

“Dimana hidroponik merupakan tekhnik penanaman yang menekankan kebutuhan unsur hara yang esensial. Karena setiap tanaman pada hidroponik memerlukan kebutuhan masing-masing, sehingga mendapatkan pertumbuhan yang benar-benar maksimal,” katanya.

Dikatakannya, kebun Hidroponik Bangka Setara ini diresmikan Bupati Bangka Mulkan pada 13 Maret 2019 lalu. Sampai sekarang ini banyak masyarakat yang membeli sayur hidroponik secara langsung di kebun bahkan ada yang berkeinginan belajar akan tanaman hidroponik.(zen)

Bangka Tengah Dapat Jatah Replanting Kebun Sawit 500 Hektare

WARTABANGKA, KOBA – Kabupaten Bangka Tengah pada tahun 2021 mendapatkan jatah luas perkebunan kelapa sawit yang akan direplanting sebanyak 500 hektare. Replanting ini akan dikhususkan bagi kebun sawit milik warga yang tidak produktif.

“Kita dapat kuota 500 hektare tahun ini. Program replanting tersebut, sudah masuk tahapan sosialisasi sekaligus pendataan kebun sawit warga,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Bangka Tengah, Sajidin, Rabu (24/2).

Pihaknya, kata Sajidin, masih fokus di Kecamatan Koba dan Namang, selanjutnya diikuti 4 kecamatan lainnya di Bangka Tengah.

“Sudah ada beberapa petani yang mendaftarkan ke kami. Kami upayakan sebelum ramadan tahun 2021, rekomendasi teknis sesuai data yang masuk ini akan kami berikan ke pemerintah pusat melalui Pemerintah Provinsi Bangka Belitung,” kata Sajidin.

Dia menambahkan syarat mengikuti program replanting kebun sawit, yakni memiliki batang sawit tidak produktif, perkebunan sawit merupakan kawasan Area Pengguna Lainnya (APL) dan satu orang petani memiliki kebun sawit maksimal seluas 4 hektare.

“Peserta replanting kebun sawit ini mendapatkan anggaran biaya replanting senilai Rp30 juta per hektare. Anggaran tersebut digunakan sebagai biaya pembukaan lahan atau penebangan batang sawit non produktif, pembelian bibit hingga pembelian pupuk,” sebut Sajidin.

Terkait pembelian bibit untuk kegiatan replanting, kata Sajidin pihaknya akan memberdayakan penangkaran lokal yang memiliki Izin Usaha Perkebunan (IUP).

“Harapan kami melalui kegiatan replanting ini, dapat mensejahterakan petani di Bangka Tengah,” pungkasnya. (RN)

Agrowisata 7 Saudara Air Anyir, Bisa Langsung Petik Jambu Kristal

WARTABANGKA, MERAWANG – Bagi masyarakat Kabupaten Bangka yang ingin memetik buah jambu kristal langsung dari pohon, kini dapat langsung berkunjung ke Agrowisata 7 Saudara, Desa Air Anyir, Merawang, Kabupaten Bangka.

Selain jambu kristal, di lahan ini juga tertanam jeruk kalimantan dan jeruk madu. Bupati Bangka Mulkan, ikut merasakan dan memetik langsung buah jambu biji berjenis kristal di lahan itu.

Sembari memanen, dirinya juga mengajak masyarakat untuk memanfatkan pekarangan agar lebih produktif. Mulkan menjelaskan dengan memanfaatkan pekarangan rumah secara maksimal maka dapat menunjang kebutuhan buah atau sayuran bagi keluarga. Bahkan apabila dilakukan dengan serius maka dapat meningkatkan perekonomian keluarga.

“Hari ini kita panen buah jambu kristal dan ini menjadi contoh bagi masyarakat lainnya. Sehingga kita berharap kedepannya masyarakat yang memiliki lahan meskipun tidak luas untuk dimanfaatkan secara optimal dan maksimal,” ungkap Mulkan, Jumat (15/2).

Selain itu dirinya beranggapan Kabupaten Bangka ini memiliki banyak potensi guna menunjang pendapatan masyarakat. Sehingga dirinya menghimbau kepada masyarakat untuk merubah mindset dari pertambangan ke arah yang lebih ramah lingkungan.

“Daerah kita ini sebetulnya memiliki potensi yang besar, bahkan dengan melemparkan batang ubi saja sudah bisa tumbuh dan kita petik daunnya. Tinggal bagaimna kita merubah pola pikir masarakat dari ketergantungan pertambangan,” ujar Mulkan.

Untuk komoditi jambu kristal masih memiliki potensi pemasaran yang cukup luas. Bahkan untuk daerah Bangka Belitung belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan masih mengimpor dari luar daerah.

Pemilik sekaligus pengelola agrowisata Desa Air Anyir, Chandra menjelaskan bisnis pertanian masin terbuka luas dan memiliki potensi yang besar. Bahkan hampir seluruh buah yang ada di Bangka Belitung didatangkan dari luar daerah dan menjadi peluang bagi kita semua.

“Untuk jambu kristal sendiri skali panen mencapai satu ton dan dijual hanya di aeral Pangkal Pinang saja. Bahkan itupun belum cukup untuk memenuhi kebutuhan jambu kristal di Bangka Belitung,” ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Ko Aen ini juga menambahkan, kebunnya telah dikelola sejak tahun 2017 lalu. Agrowisata 7 Saudara berdiri di lahan seluas 50 hektar dengan berbagai tanaman buah.

“Untuk jambu biji jenis kristal, di lahan 1 hektar sekali panen sebanyak 1 ton, untuk penjualan di sekitar Sungailiat dan Pangkalpinang. Sekarang kebutuhan baju biji kristal masih kurang, dijual seharga Rp 20.000 ribu,” jelasnya.

Selain itu ada jeruk jenis Kalimantan dan Madu sebanyak 20 ribu pohon. Setiap kali panen per hari bisa mencapai 5 hingga 10 ton yang dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan jeruk di Bangka Belitung.(*/zen)

Mau Santai dan Menikmati Kopi Asli Petani Babel, Geddong Kopi Tempatnya

WARTABANGKA, PANGKALPINANG – Di kawasan Taman UMKM Kompleks Perkantoran Pemerintah Provinsi Bangka Belitung (Pemprov Babel), Air Itam, Pangkalpinang kini ada tempat untuk bersantai dan nongkrong yang asyik sembari menikmati seduhan kopi. Gerai ini diberi nama Geddong Kopi.

Owner Geddong Kopi, M. Syarif Hidayatullah, mengatakan, gerai kopi ini merupakan unit usaha dari Forum Masyarakat Petani (Formap) yang menjual hasil pertanian petani yang tergabung dalam forum tersebut.

“Awalnya kami kesulitan tempat untuk memperkenalkan hasil pertanian petani yang tergabung dalam Formap ini, kemudian ditawarkan oleh pak gubernur, bahwa pemprov siap memfasilitasi, akhirnya kami dibantu tempat di taman UMKM ini, ” jelasnya, Rabu (17/2).

Di Geddong Kopi ini, menyediakan kopi asli Babel, gula aren, jahe merah halus dicampurkan dengan minuman kekinian, termasuk juga beberapa jus buah yang produk utamanya dihasilkan dari petani Formap.

Selain minuman, di gerai ini juga tersedia berbagai jenis makanan ringan dan cemilan, produk UMKM Babel.

Di taman UMKM ini, selain dihiasai spot foto yang menarik, juga ditanami barang kopi. Hal ini dimaksudkan, untuk memperkenalkan produk-produk pertanian Babel.

“Untuk kopi, kita ada kopi robusta, dan arabika. Selain kopi yang diseduh, ada juga kopi bubuk yang bisa dibeli oleh konsumen,” katanya.

Geddong sendiri, sebutannya, diambil dari nama lokasi di salah satu desa di Provinsi Babel, yakni Simpang Gedong.

Hasil dari penjualan di Geddong Kopi ini, juga akan disisihkan untuk membantu pemberdayaan petani yang bernaung dibawah Formap Babel.

Sementara, Kadis Koperasi dan UKM (DKUKM) Pemprov Babel, Elfiyena menyebutkan, pihaknya mendorong UMKM untuk naik kelas dan berkembang, salah satunya dengan fasilitasi pelaku UMKM untuk meningkatkan usahanya.

“Geddong Kopi ini salah satu UMKM Babel, mereka ada petani yang tergabung dalam Formap, disini juga yang dijual adalah produk pertanian dari petani dan pelaku UMKM, ” sebutnya.

Ia berharap, taman UMKM ini bisa menjadi salah satu tempat nongkrong di lingkungan perkantoran. (*/two)

Pemkab Bangka Uji Coba Tanam Bawang Merah di 15 Lokasi

WARTABANGKA, PUDINGBESAR – Pemerintah Kabupaten Bangka membudidayakan tanaman bawang merah di 15 lokasi, tersebar di 8 kecamatan.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Bangka, Elius Gani menyampaikan, budidaya bawang merah tersebut dikembangkan ada yang menggunakan dana insentif daerah maupun kerja sama dengan Bank Indonesia.

“Budidaya bawang merah ini tersebar di semua kecamatan Kabupaten Bangka. Dari 15 lokasi itu, tersisa Desa Cit Riau Silip yang belum panen,” kata Elius Gani saat menghadiri panen bawang merah di Desa Labu, Kecamatan Pudingbesar, Rabu (17/2).

Elius menjelaskan, produktivitas bawang merah dari yang ditanam cukup mengembirakan. Bahkan di Kemuja Mendo Barat kata Elius mencapai 8 ton.

“Ini mengembirakan bagi petani dan lainnya untuk mulai membudidayakan bawang merah. Komoditi ini digemari petani. Secara ekonomi menguntungkan,” kata Elius.

Disampaikan Elius, bawang merah bisa dipanen dalam jangka waktu 60 hari. Petugas penyuluh lapangan terus melakukan pendampingan agar hasil panen bisa maksimal.(*/zen)

Menuju Pertanian Modern, Gubernur Tinjau Sawah Desa Namang

WARTABANGKA, NAMANG – Perkembangan teknologi dewasa ini semakin pesat. Inovasi teknologi dilakukan untuk memudahkan manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satunya adalah pesawat tanpa awak/nir awak yang dikenal dengan teknologi drone bisa diaplikasikan sebagai bentuk inovasi dalam pertanian modern.

Menggunakan kecanggihan yang dimiliki teknologi drone, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Erzaldi Rosman langsung menangkap peluang ini untuk meningkatkan hasil produksi pertanian masyarakat Babel.

Di Kawasan Sawah Desa Namang, Kabupaten Bangka Tengah, seluas 53 hektar, Gubernur Erzaldi menyempatkan untuk melihat sekaligus menyurvei lokasi yang akan menjadi salah satu kawasan pemanfaatan teknologi drone untuk pertanian modern, Selasa (16/2).

Bersama dengan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Jawa Barat, Hadi S, sebagai pihak yang akan melaksanakan kerjasama dengan Pemprov. Babel dalam penggunaan teknologi ini. Serta Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Babel, Juaidi, di sawah yang akan memasuki masa panen tersebut.

Di sela-sela kunjungan, Gubernur Babel mengatakan, penggunaan teknologi drone menuju pertanian modern dengan harapan dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi dan pendataan lebih akurat.

“Mutlak kita harus memakai teknologi. Tinggal bagaimana kita mengajak para petani untuk terbiasa memakai teknologi ini. Teknologi ini kalau tidak kita mulai, ya tidak mulai-mulai,” ungkapnya.

Hal ini juga sebagai langkah agar masyarakat termotivasi menggunakan teknologi sebagai perwujudan perkembangan zaman di bidang apapun.

Dijelaskannya juga mengenai program penggunaan drone untuk pertanian ini, Pemprov. Babel menggandeng Kadin Jawa Barat yang telah teruji dalam penggunaannya.

Untuk tahap awal akan segera dilakukan pendataan menggunakan drone untuk jenis pertanian padi di bulan Maret ini, diikuti komoditi lada, sawit, dan porang di bulan Juni hingga Juli.

Menurut orang nomor 1 di Babel ini, teknologi tidak akan mengurangi sumber daya manusia (SDM) tetapi justru akan meningkatkan produktivitas serta lebih cepat dan tepat.

Sementara Wakil ketua umum Kadin Jabar, Hadi S menyampaikan, pihaknya akan membantu meningkatkan produktivitas pertanian Bangka Belitung. Sebagai ahli teknologi pangan, pihaknya akan mencoba menaikkan produktivitas panen dari 8 ton hingga ke 11 atau 12 ton dengan teknologi.

Drone akan berfungsi untuk mendeteksi hama, pemupukan dan penyemprotan, memilih benih hingga membantu petani untuk memonitor lahan pertaniannya.

Ikut mendampingi dalam kunjungan ini Direktur PT. Paidi Indoporang, Paidi; Plt. Kepala Dinas PU Babel, Jantani; Kepala Dinas Kehutanan Babel, Marwan; Kepala Balai Benih Pertanian Babel, Judnaidy; tokoh masyarakat Namang, Zaiwan; dan para petani Desa Namang.

Pada kunjungannya, Gubernur Erzaldi beserta rombongan berkesempatan mencicipi madu pelawan yang merupakan madu murni dari hutan pelawan Desa Namang. Madu ini terkenal memiliki banyak khasiat bagi kesehatan. (Diskominfo Babel)

Bupati Bangka Hadiri Panen Bawang Merah di Desa Labu Puding Besar

WARTABANGKA, PUDINGBESAR– Pemerintah Kabupaten Bangka melakukan panen perdana bawang merah varietas bima brebes di Desa Labu, Kecamatan Puding Besar, Rabu (17/2).

Bupati Bangka, Mulkan menjelaskan, budidaya bawang sangat asing di Kabupaten Bangka. Bahkan, sebagian kecil masyarakat yang percaya jika tanaman bawang ini bisa hidup.

“Alhamdulillah berkat ketekunan dan kerjasama semua pihak, kita bisa panen perdana bawang merah ini,” kata Mulkan.

Mulkan menceritakan, niat menanam bawang adalah sebagai salah satu bentuk pemulihan ekonomi. Dipilihnya bawang lantaran komuditas ini lebih cepat masa panen.

“Hanya dengan 60 hari sudah panen. Ini juga sebagai bentuk proses pemulihan ekonomi bagi masyarakat secara cepat,” ujarnya.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Bangka Elius Gani menambahkan, panen bawang yang dilakukan adalah varietas Bima Brebes. “Ini kita mulai dari umbi. Nanti yang dari biji juga akan kita kembangkan,” kata Elius.

Disampaikannya, panen bawang ini adalah panen bawang bantuan dana DID tahun 2020 oleh Kelompok Tani Indo Tani Desa Labu. Elius berharap, ini bisa meningkatkan ekonomi berkelanjutan.

“Ini adalah tahap pertama. Nanti akan terus dikembangkan. Hari ini kita panen di lahan 0,375 hektare,” ucapnya.

Elius tak memungkiri jika petani sangat awam dalam menanam bawang merah. Namun berkat pendampingan dan kerjasama semua pihak, panen bisa dilakukan.(*/zen)

Pemprov Babel Dorong Petani Kembangkan Sorgum

WARTABANGKA, SUNGAILIAT – Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mendorong para petani untuk dapat mengembangkan tanaman sorgum guna membantu ketahanan pangan daerah.

Gubernur Babel, Erzaldi Rosman saat panen Sorgum di Kelurahan Lubuk Kelik, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Rabu (3/2) menjelaskan, menanam sorgum sangat mudah, mengingat tidak memerlukan lahan khusus seperti sawah, sorgum dapat dibudidaya di area bekas pertambangan biji timah.

“Pola tanam juga sederhana, sekali tanam dapat panen empat kali karena akan tunas baru dari batang awal,” kata Erzaldi.

Dari batang sampai buah, sorgum kata dia memiliki nilai jual. Batang sorgum mengandung air gula seperti tebu sedangkan buahnya dapat diolah berbagai jenis olahan makanan.

Erzaldi mengakui, budidaya tanaman sorgum oleh petani di daerahnya belum lama atau baru sejak tahun 2018, tetapi sekarang sudah banyak dikembangkan petani.

Dia mengatakan sektor pertanian menjadi perhatian penuh karena dianggap mampu mempertahankan kesimbungan dan kekuatan ekonomi masyarakat.

“Tidak ada tawaran lain saat ini kita menguatkan petani untuk mengembangkan berbagai komiditi pertanian,” jelasnya.

Erzaldi menjelaskan, meski sorgum dapat dibudidaya di area bekas pertambangan biji timah. Namun, sorgum di Babel belum sepopuler di luar.

“Pola tanam Sorgum sederhana, sekali tanam dapat panen empat kali karena akan tunas baru dari batang awal,” katanya.

Saat ini kata dia, area kebun sorgum di Babelbaru mencapai 60 hektare dengan kemampuan produksi panen kurang lebih empat sampai tujuh ton perhektar.

Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Bangka, Elius Gani mengatakan saat ini terdata seluas 12.75 hektar kebun sorgum yang sudah siap panen yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan.

“Untuk di wilayah Kecamatan Sungailiat terdapat 6.75 hektare sorgum siap panen, Kecamatan Mendo Barat seluas empat hektare dan Kecamatan Riau Silip seluas dua hektare,” katanya.

Sedangan lahan yang siap ditanami sorgun seluas 11.5 hektar terdapat di Kecamatan Mendo Barat satu hektare, Kecamatan Belinyu 10 hektare dan di Kecamatan Sungailiat terdapat 0,5 hektare.

Sementara, Pemilik kebun sorgum Bambang Prayitno membeberkan, dirinya menanam sorgum di lahan seluas 4,5 hektare yang terletak di Kelurahan Lubuk Kelik, Kecamatan Sungailiat.

Bambang menceritakan awal ketertarikannya, hingga ia memutuskan untuk menggarap lahan miliknya menjadi kebun sorgum. Ia melihat di berita, dunia bahkan Indonesia bisa saja akan menghadapi krisis pangan. Sehingga muncul keinginan pada dirinya bertanam sorgum.

“Sorgum ini masa panen kurang lebih 100 hari atau tiga bulan. Tanaman Sorgum, termasuk tanaman pangan yang tidak mempunyai perlakuan khusus,” ucapnya.(*/zen)