Kualitas Udara Bangka Belitung


Oleh : Sri Heldawati, S.T
Pengendali Dampak Lingkungan DLH Prov.Kep.Bangka Belitung

Udara sebagai sumber daya alam yang mempengaruhi kehidupan manusia serta mahluk hidup lainnya harus dijaga dan dipelihara kelestarian fungsinya untuk menjamin kesehatan dan kesejahteraan manusia serta perlindungan bagi mahluk hidup lainnya.

Kualitas udara perkotaan sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Penyediaan sumber energi listrik yang menggunakan bahan bakar fosil dan aktivitas kendaraan merupakan faktor utama penyumbang polutan yang berupa gas. Kualitas udara dihitung menggunakan parameter gas yang dominan yaitu SO2 dan NO2. Selain zat pencemar berupa gas, terdapat juga polutan di udara yang berupa partikulat. Partikulat dibagi menjadi 3 bagian berdasarkan ukuran partikulat di udara. Total Suspended Partikulat (TSP) merupakan partikel debu yang memiliki ukuran dalam rentang 1 -500 mikron. Partikulat Matter 10 (PM 10) adalah partikulat yang memiliki ukuran lebih kecil dari 10 mikron, sedangkan PM 2.5 adalah partikulat yang memiliki ukuran 2.5 mikron.


Pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan laju penduduk merupakan faktor utama dalam drive terhadap kualitas udara perkotaan. Aktivitas manusia dalam pemenuhan kebutuhan hidup berupa transportasi dan energi telah menghasilkan efek samping berupa emisi sisa pembakaran yang masuk ke dalam udara ambien, sehingga mutu udara ambien akan turun kedalam tingkatan tertentu yang mengakibatkan udara ambien tidak dapat lagi memenuhi fungsinya.

Kegiatan transportasi merupakan bagian dari kebutuhan hidup manusia. Pola penggunaan kendaraan pribadi menjadi aktivitas rutin yang terjadi pada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Emisi yang dikeluarkan oleh hasil pembakaran mesin kendaraan dapat berupa CO2, HC, SO2, dan Oksidan (O3). Emisi yang dihasilkan sangat tergantung dengan efisiensi mesin kendaraan, jenis bahan bakar, serta jarak yang digunakan dalam menggunakan kendaraan.


Meningkatnya ekonomi akan mendorong munculnya jenis kegiatan industri baru. Peningkatan jumlah industri ini akan turut menyumbangkan emisi yang berasal dari hasil pembakaran sesuai dengan jenis bahan bakar yang digunakan. Gas utama yang dihasilkan pada pembakaran mesin produksi adalah gas SO2, dan NO2. Tingkat produksi yang tinggi akan menghasilkan beban pencemaran emisi yang tinggi juga, sehingga dapat menekan kualitas udara ambien perkotaan.

Pembukaan lahan dengan cara dibakar merupakan salah satu drive yang dapat memunculkan masalah polusi udara. Hasil pembakaran akan menghasilkan gas CO2 dan N2O. Gas ini merupakan penyumbang utama bagi gas rumah kaca (GRK). Peningkatan konsentrasi GRK pada udara ambien dapat menyebabkan kenaikan temperatur udara, sehingga menurunkan kualitas kehidupan manusia.


Indeks Kualitas Udara (IKU) merupakan indikator kualitas udara ambien perkotaan. IKU pada umumnya dihitung berdasarkan lima gas pencemar utama yaitu, SO2, NO2, O3, CO serta partikulat baik TSP, PM10, PM2.5. Pengukuran kualitas udara ambien dilakukan pada 3 lokasi pada masing masing kabupaten/kota yang mewakili wilayah industri, perumahan, dan transportasi menggunakan metode manual active sampler. Perhitungan IKU di Indonesia menggunakan baku standar kualitas udara berdasarkan EU Directives. Standar EU Directives berdasarkan kebutuhan udara ambien untuk standar kesehatan manusia.


Sebaran gas SO2 dan NO2 yang dihasilkan dari proses pembakaran mesin industri, pembangkit listrik dan kendaraan bermotor merupakan sumber polutan utama yang menjadi zat pencemar pada udara ambien perkotaan. Tekanan penambahan beban pencemaran akan menurunkan kualitas udara perkotaan, sehingga akan menyebabkan penurunan kesehatan masyarakat. Hasil sampling yang dilakukan oleh Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan menggunakan manual sampling ataupun berdasarkan data yang dihasilkan passive sampler kualitas udara ambien perkotaan masih berada pada kondisi baik.

Sesuai dengan data sebaran nilai IKU per Kabupaten/Kota, ada 3 kabupaten atau 4.28% yang memiliki nilai IKU diatas rata rata Provinsi Kepulauan Bangka Bangka. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas udara 3 kabupaten ini yaitu, Bangka Selatan, Bangka Barat dan Bangka Tengah memiliki kualitas udara sangat baik daripada kabupaten lainnya yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.


Gas Nitrogen Oxide (NO) dan Nitrogen dioxside (NO2) adalah dua oksida oksigen yang paling penting dalam pencemaran udara. Di dalam analisa laboratorium kedua gas tersebut dapat disatukan menjadi NOx. Gas NO2 merupakan gas yang lebih berbahaya bagi kesehatan daripada NO, karena NO bersifat iritasi. Gas NO merupakan produk samping utama dari proses pembakaran yang timbul dari reaksi pada suhu tinggi antara N2 dan O2. Gas NO juga dapat dihasilkan dari proses oksidasi yang terjadi pada pembakaran dengan menggunakan bahan bakar batubara dan minyak.

Pada setiap pembakaran menggunakan bahan bakar minyak akan mengasilkan residu nitrogen sebesar 0.2 – 0.8% NO, sedangkan batu bara akan menghasilkan 1 – 2% NO. Efek samping dari polutan NO dan NO2 yang terdapat di udara ambien adalah terjadinya iritasi pada mata dan kulit dan apabila terjadi konsentrasi yang tinggi maka akan menyebabkan sesak nafas, terutama bagi manusia yang memiliki gangguan asma.

Gas SO2 terbentuk dari oksidasi sulfur yang terkandung dalam bakan bakar termasuk pada jenis industri yang menggunakan bahan baku belerang. Emisi antropogenik SO2 merupakan jenis emisi yang dihasilkan dari cerobong pabrik/stationer point source. Pembakaran industri meliputi seluruh boiler, pemanas dan tungku yang digunakan sebagai utilitas terutama pada industri pembangkit dan peleburan (smelter).

Kadar SO2 di udara dapat menyebabkan beberapa dampak kesehatan pada manusia. Gas SO2 di udara dapat dengan cepat berubah menjadi asam karena adanya intensitas uap air, kandungan asam pada udara ambien dapat menyebabkan iritasi pada hidung serta akan masuk menyerang ke dalam system pernapasn manusia. Kondisi asam di udara ambien dapat memicu terjadinya hujan asam yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit manusia. Secara umum peningkatan kadar konsentrasi polutan yang berbentuk gas akan meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di udara sehingga secara langsung akan meningkatkan temperatur udara perkotaan.

Data hasil pemantauan merupakan sumber utama untuk mengetahui kualitas udara perkotaan. Kegiatan pemantauan secara manual akan tetap dilakukan secara periodik Berdasarkan perhitungan nasional dengan menggunakan passive sampler indeks kualitas udara IKU Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki indeks 91. Data berdasarkan hasil pengukuran data manual sampling IKU memiliki indeks 81.54 Indeks IKU dengan nilai 91 termasuk dalam kategori BAIK.


Jika mengacu pada target yang dikeluarkan oleh KLHK untuk pencapaian IKU tahun 2020-2024 maka berbagai respons dan effort harus disiapkan secara baik terutama mempertahankan kualitas udara yang sekarang ditambah dengan upaya perbaikan kualitas udara, Indeks Kualitas Udara (IKU) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih berada dalam kondisi baik, jika dilihat trend data historis Indeks Kualitas Udara Provinsi Kepulauan Bangka Belitung walaupun masih dalam keadaan baik, namun harus tetap dilakukan berbagai upaya untuk mempertahankan kondisi tersebut. Ada berbagai upaya intervensi untuk tetap menjaga kualitas udara dalam kondisi baik diantaranya:

  1. Pengendalian Pencemaran udara Sumber Bergerak diantaranya:
    a. Manajemen transportasi dan pengadaan transportasi masal;
    b. Kegiatan uji emisi kendaraan bermotor yang dilaksanakan secara berkala;
    c. Membuat regulasi daerah terkait emisi gas buang kendaraan bermotor.
  2. Pengendalian Udara Sumber Tidak Bergerak diantaranya:
    a. Pengawasan ketaatan pelaku usaha terkait kewajiban pengelolaan emisi sumber tidak bergerak yang dapat dilakukan dengan mekanisme pengawasan rutin dan berkala, maupun kegiatan PROPER (Program Peningkatan Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan lingkungan Hidup);
    b. Membuat regulasi (peraturan daerah) terkait pengendalian pencemaran Udara Sumber Tidak Bergerak.

Selain upaya-upaya diatas, pemantauan kualitas udara secara kontinyu terus dilakukan. Meminimalkan resiko terhadap kebakaran hutan juga merupakan upaya yang harus dilakukan mengingat kebakaran hutan merupakan faktor yang dapat menurunkan kualitas udara. Peningkatan ketersediaan Ruang Terbuka Hijau serta penggunaan bahan bakar serta energi ramah lingkungan merupakan pilihan yang harus dipertimbangkan kedepan untuk meminimalkan potensi penurunan kualitas udara. Kegiatan pengawasan terhadap industri ini khususnya terhadap emisi cerobong ditekankan pada kesesuaian metode teknis pengukuran emisi secara manual dan fasilitas sampling yang ada di cerobong. Kesesuaian metode dan cara sampling yang baik akan memberikan gambaran data beban pencemaran yang dihasilkan semakin sesuai dengan keadaan sebenarnya. Data beban pencemaran yang didapatkan dari laporan setiap industri dapat dijadikan tolak ukur beban pencemaran gas di udara ambien perkotaan.

Sumber : Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2019

loading...

Check Also

Promosikan Produk UMKM Babel, PT Timah Boyong Mitra Binaan ke Pameran BUMN-UMKM Great Sale 2021

WARTABANGKA, SOLO – Menggeliatkan promosi produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Provinsi Kepulauan Bangka …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *